![]()
SAROLANGUN – Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani mengingatkan pelajar agar tidak lengah menghadapi berbagai ancaman di ruang digital. Radikalisme, propaganda kekerasan, glorifikasi kejahatan hingga perundungan dinilai dapat mengancam masa depan generasi muda.
Pesan itu disampaikan Abdullah Sani saat menghadiri kegiatan sosialisasi pencegahan intoleransi, radikalisme, narkoba dan berbagai ancaman terhadap pelajar di Kabupaten Sarolangun, Kamis (6/8/2026).
Abdullah Sani mengatakan perkembangan teknologi memberikan peluang besar bagi anak muda untuk mendapatkan pengetahuan. Namun, keterbukaan informasi juga memiliki sisi lain yang perlu diwaspadai.
“Kita hidup di era digital yang sangat terbuka. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital RI, jumlah pengguna internet telah mencapai 221 juta orang atau 79,5 persen dari total populasi Indonesia,” kata Abdullah Sani.
Menurutnya, ruang digital dapat menjadi media penyebaran paham radikal, propaganda kekerasan hingga konten yang mengagungkan tindak kejahatan jika tidak digunakan secara bijak.
“Ini peluang besar untuk belajar, namun di sisi lain ruang digital juga menjadi sarana penyebaran paham radikal, propaganda kekerasan, hingga glorifikasi kejahatan melalui komunitas tertentu seperti TCC jika tidak disikapi dengan bijak,” ujarnya.
Selain ancaman dari dunia maya, pemerintah juga menyoroti persoalan perundungan di lingkungan sekolah.
Abdullah Sani mengutip data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) 2025 yang mencatat 641 kasus perundungan secara nasional. Sebanyak 57 persen di antaranya terjadi di lingkungan sekolah.
Sementara itu, persentase kasus perundungan di Provinsi Jambi disebut mencapai 0,49 persen.
“Angka ini sangat memprihatinkan karena berdampak pada kesehatan mental, prestasi belajar, bahkan masa depan anak-anak kita,” katanya.
Menurut Abdullah Sani, sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi seluruh siswa. Karena itu, pemerintah daerah mendorong penguatan pencegahan intoleransi, radikalisme dan kekerasan melalui kerja sama berbagai pihak.
Pemerintah Provinsi Jambi juga telah menerbitkan instruksi terkait upaya pencegahan intoleransi dan radikalisme. Pelaksanaannya melibatkan unsur pemerintah, aparat keamanan, lembaga pendidikan dan masyarakat.
Abdullah Sani meminta para siswa tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial. Para pelajar juga diminta berani melaporkan jika menemukan aktivitas atau konten yang dianggap mencurigakan.
Dia menekankan pentingnya pendidikan sebagai bekal utama menghadapi masa depan.
“Selanjutnya saya ingin menegaskan kepada seluruh pelajar agar mengutamakan pendidikan. Pendidikan adalah jalan untuk mencapai masa depan. Jangan pernah berhenti belajar,” tegasnya.
Bupati Sarolangun Hurmin juga meminta para pelajar serius mengikuti sosialisasi tersebut. Menurutnya, anak muda merupakan kelompok yang harus mendapatkan perlindungan dari narkoba, pergaulan bebas hingga paham radikalisme.
“Anak-anak kita adalah penerus bangsa. Jangan sampai masa depan mereka rusak karena salah pergaulan, terjerumus narkoba, atau terpapar paham radikalisme dan terorisme,” ujar Hurmin.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kepala Satgaswil Jambi Densus 88 Antiteror Mabes Polri.
Para pemateri memberikan pemahaman kepada pelajar mengenai pola penyebaran narkoba, radikalisme dan ancaman kekerasan yang dapat menyasar generasi muda.
Pemerintah berharap kolaborasi lintas sektor tersebut dapat memperkuat ketahanan pelajar sekaligus memastikan sekolah menjadi lingkungan yang aman, sehat dan bebas dari berbagai bentuk kekerasan maupun pengaruh kelompok yang dapat merusak masa depan generasi muda.







