Dampak Kabut Asap, Batik Air Sempat Berputar di Langit Jambi Sebelum Dialihkan ke Batam

Loading

JAMBI- Pesawat Batik Air ID 6804 rute Jakarta-Jambi sempat berada di udara Jambi sebelum akhirnya tidak mendarat dan dialihkan ke Batam, Minggu (23/8/2026). Kondisi ini terjadi saat jarak pandang di Bandara Sultan Thaha Jambi menurun di tengah kabut asap.

Pesawat jenis Airbus A320 dengan registrasi PK-LAT itu dijadwalkan tiba di Jambi sekitar pukul 10.00 WIB. Pesawat sempat melakukan manuver di udara sebelum kemudian diarahkan menuju Bandara Hang Nadim, Batam.

General Manager Bandara Sultan Thaha Jambi Ardon Marbun membenarkan adanya pengalihan penerbangan tersebut. Namun, dia meluruskan bahwa keputusan divert tidak semata-mata disebabkan oleh kabut asap.

“Benar, Bang, divert ke Batam,” kata Ardon kepada detikSumbagsel, Minggu (23/8/2026).

Menurut Ardon, selain soal kabut asap, gagal landing Batik Air itu juga faktor operasional penerbangan turut memengaruhi keputusan tersebut. Sebelumnya, pesawat Garuda Indonesia berhasil mendarat di Bandara Sultan Thaha. Namun, Batik Air tidak dapat mengikuti kesempatan pendaratan tersebut.

“Bukan hanya karena asap. Berselang sekitar 20 menit dari Garuda landing, Batik tidak dapat mengikuti, sehingga akhirnya dialihkan ke Batam,” ujarnya.

Meski demikian, kondisi jarak pandang di Bandara Sultan Thaha memang sedang mengalami penurunan. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan munculnya kabut asap yang terlihat di sejumlah wilayah Kota Jambi.

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Jambi Jaya Martuah Sinaga mengatakan jarak pandang pada siang hari berada di sekitar 1.500 meter akibat kabut asap.

“Jarak pandang saat ini 1.500 meter, namun jam 10.00 WIB dan jam 11.00 WIB sempat di angka 1.000 dikarenakan ada kabut asap,” ujar Jaya.

Jaya menjelaskan kabut asap yang berada di wilayah Jambi tidak hanya berasal dari satu titik. Asap juga berkaitan dengan kejadian karhutla di Jambi dan Sumatera Selatan yang kemudian terbawa pergerakan angin.

“Kabut asap terjadi karena ada kejadian karhutla di Jambi dan Sumsel. Kemudian kabut asap dibawa angin dari arah tenggara menuju barat laut di Sumatera,” jelasnya.

Pantauan di sejumlah kawasan Kota Jambi pada Minggu siang menunjukkan lapisan asap masih terlihat menggantung di udara. Sejumlah objek yang berada di kejauhan tampak samar, sementara kondisi langit terlihat berkabut.

Kondisi tersebut juga dirasakan warga. Dogel, warga Kota Jambi, mengatakan asap mulai terasa mengganggu aktivitas sejak pagi, terutama ketika dirinya berkendara.

“Pagi ini mulai terasa sekali. Mata perih saat membawa kendaraan di jalan. Bau asap bekas karhutla juga sangat menyengat di hidung dan tenggorokan terasa sakit,” kata Dogel.

Menurut Dogel, kondisi kabut asap kali ini terasa lebih pekat dibandingkan hari sebelumnya. Ia berharap pemerintah segera memperkuat penanganan karhutla agar asap tidak semakin meluas.

Di tengah kondisi tersebut, karhutla masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah Jambi. Data terbaru mencatat luas lahan terbakar di Provinsi Jambi sejak 1 Januari hingga 16 Agustus 2026 mencapai 658,29 hektare.

Muaro Jambi menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar, mencapai 264,78 hektare. Berikutnya Batanghari 95,53 hektare, Tanjung Jabung Barat 58,10 hektare, dan Tanjung Jabung Timur 32,71 hektare.

Kabut asap yang mulai mengganggu jarak pandang tersebut menjadi salah satu dampak yang dirasakan masyarakat di tengah masih berlangsungnya penanganan karhutla di Jambi. Di sektor penerbangan, kondisi cuaca dan operasional menjadi pertimbangan dalam memastikan pesawat dapat mendarat dengan aman. (Red)

Pos terkait