![]()
Muarojambi – Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti langit Kabupaten Muaro Jambi. Kualitas udara di daerah itu tercatat tidak sehat, dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 108.
Data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup yang dipantau pada pukul 08.00 WIB menunjukkan stasiun KLH Kabupaten Muaro Jambi mencatat ISPU 108 dengan parameter kritis PM2.5. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat, yakni rentang ISPU 101-200.
Kondisi kabut asap juga mulai terlihat di sejumlah wilayah Muaro Jambi. Lapisan asap tampak menggantung di udara, sementara jarak pandang ke sejumlah objek di kejauhan mulai berkurang.
Bupati Muaro Jambi Bambang Bayu Suseno (BBS) mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan kualitas udara melalui ISPU.
“Kita pantau ISPU terus. Kemarin 137, hari ini 108. Hari ini memang terasa lebih parah dari kemarin,” kata BBS, Minggu (23/8/2026).
Menurut BBS, angka ISPU menjadi salah satu indikator yang terus dipantau pemerintah daerah di tengah kondisi karhutla yang masih terjadi. Pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan kualitas udara sekaligus menentukan langkah yang diperlukan bagi masyarakat.
Kabut asap ini muncul ketika sejumlah titik karhutla di Muaro Jambi masih mendapat penanganan. Pemerintah daerah bersama tim gabungan terus melakukan pemantauan dan pemadaman di wilayah rawan kebakaran.
Berdasarkan data terbaru Satgas Karhutla Provinsi Jambi, luas lahan terbakar di Jambi sejak 1 Januari hingga 16 Agustus 2026 mencapai 658,29 hektare. Dari total tersebut, Muaro Jambi menjadi daerah dengan luasan karhutla terbesar, yakni 264,78 hektare.
Data penanganan karhutla juga menunjukkan persoalan di Muaro Jambi belum sepenuhnya selesai. Sejumlah titik kebakaran tersebar di beberapa kecamatan, termasuk Kumpeh, Mestong, Jambi Luar Kota dan Sungai Gelam. Hingga 15 Agustus 2026, tercatat 25 kejadian karhutla di Kabupaten Muaro Jambi sejak Maret.
BBS mengatakan kondisi kemarau membuat pemerintah daerah harus meningkatkan kewaspadaan. Terlebih, sebagian wilayah Muaro Jambi memiliki lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan ketika api sudah masuk ke bawah permukaan tanah.
“Kita terus mengawasi titik-titik rawan. Jangan sampai api meluas dan asapnya semakin berdampak ke masyarakat,” tegas BBS.
Dengan ISPU Muaro Jambi berada di angka 108, masyarakat di wilayah terdampak diminta lebih memperhatikan kondisi udara, khususnya kelompok rentan. Dalam kategori ISPU, angka 101-200 masuk kategori tidak sehat.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi peringatan bahwa ancaman karhutla di Muaro Jambi belum berakhir. Dengan 264,78 hektare lahan terbakar, Muaro Jambi saat ini menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar di Provinsi Jambi. (red







