![]()
JAMBI- Pemprov Jambi terus mematangkan persiapan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Jambi-Rengat Fase I. Gubernur Jambi Al Haris menargetkan konstruksi ruas Simpang Ness-Merlung mulai dikerjakan pada 2027.
Hal itu disampaikan Al Haris saat memimpin rapat koordinasi persiapan pembangunan tol di Auditorium Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jumat (24/7/2026).
Rapat tersebut dihadiri Plt Kepala BPJN Jambi Robert Eduard Sihotang, perwakilan Islamic Development Bank (IsDB) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), pemerintah kabupaten yang wilayahnya terdampak, BPN, hingga tokoh masyarakat.
Al Haris meminta proses persiapan, terutama pengadaan tanah, dilakukan sejak awal. Dia menyebut pengalaman pembangunan Tol Jambi-Palembang menjadi pelajaran penting agar proyek Jambi-Rengat tidak terkendala saat masuk tahap konstruksi.
“Kita belajar dari pengalaman pembangunan Jalan Tol Jambi-Palembang. Persiapan harus dilakukan sejak dini, terutama pendataan lahan, agar pelaksanaan pembangunan pada 2027 dapat berjalan sesuai rencana,” kata Al Haris.
Dia meminta pemerintah kabupaten yang dilalui jalur tol segera mendata desa terdampak, bidang tanah, serta kepemilikan lahan. Pendataan tersebut dinilai penting untuk mempercepat proses administrasi.
Al Haris juga memastikan pengadaan tanah dilakukan secara adil. Warga terdampak akan mendapatkan ganti rugi berdasarkan hasil penilaian penilai independen.
Tol Jambi-Rengat 67,45 Km
Plt Kepala BPJN Jambi Robert Eduard Sihotang mengatakan ruas Jambi-Rengat Fase I memiliki panjang 67,45 kilometer. Jalur tersebut membentang dari Simpang Ness hingga Merlung dan melintasi tiga kabupaten.
“Melintasi Muaro Jambi, Batanghari, dan Tanjung Jabung Barat,” kata Robert.
Ruas tersebut akan dilengkapi dua simpang susun, yakni Simpang Susun Cinto Kenang dan Simpang Susun Merlung. Pembangunan dibagi menjadi empat paket pekerjaan, yakni Paket 1A, 1B, 2A, dan 2B.
Salah satu bagian penting proyek tersebut adalah pembangunan struktur utama Jembatan Batanghari.
Untuk pengadaan lahan, Robert menyebut progresnya saat ini baru sekitar 9 persen. Proses tersebut mencakup sembilan desa, terdiri dari enam desa di Muaro Jambi, dua desa di Batanghari, dan satu desa di Tanjung Jabung Barat.
“Hingga saat ini, sekitar 9 persen proses pengadaan lahan telah diselesaikan yang mencakup sembilan desa,” ujarnya.
Robert menargetkan pengadaan tanah dapat diselesaikan sekitar sembilan bulan setelah seluruh persyaratan perizinan terpenuhi.
Selain pembebasan lahan dan konstruksi, pemerintah juga menyiapkan mitigasi dampak lingkungan dan sosial. Sejumlah fasilitas seperti underpass dan overpass disiapkan untuk menjaga akses masyarakat selama proyek berlangsung.
Program pemulihan mata pencaharian warga terdampak juga disiapkan. Pemerintah bersama lembaga pendanaan internasional membuka ruang komunikasi dengan masyarakat untuk menampung aspirasi selama proses pembangunan.
Jika persiapan berjalan sesuai target, ruas Jambi-Rengat Fase I diharapkan mulai masuk tahap konstruksi pada 2027. (redaksi)







