Karhutla Jambi Makin Meluas, BPBD: Luas Lahan Terbakar Tembus 222 Hektare

Loading

Jambi – Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi terus bertambah seiring meningkatnya intensitas musim kemarau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi mencatat hingga akhir Juli 2026, sekitar 222 hektare lahan telah terbakar di sejumlah kabupaten.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah mengatakan, kebakaran tersebar di Kabupaten Muaro Jambi, Batanghari, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Tebo hingga Merangin. Kondisi tersebut diperkirakan masih berpotensi bertambah karena Provinsi Jambi kini memasuki puncak musim kemarau.

“Hingga saat ini luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 222 hektare. Akhir Juli ini Jambi sudah memasuki fase puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung sampai akhir September, bahkan bisa berlanjut hingga Oktober,” kata Bachyuni, Kamis (30/7/2026).

Menurut Bachyuni, sejumlah wilayah yang paling sering terjadi kebakaran berada di Kecamatan Kumpeh dan Rantau Panjang, Kabupaten Muaro Jambi, Kecamatan Betara di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kecamatan Geragai di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, serta beberapa titik di Kabupaten Batanghari.

Meski demikian, ia memastikan seluruh kejadian kebakaran sejauh ini masih dapat dikendalikan berkat kesiapsiagaan personel di lapangan yang bergerak cepat begitu menerima laporan.

Untuk mempercepat penanganan, BPBD Provinsi Jambi telah menyiapkan 81 posko siaga karhutla yang tersebar di wilayah rawan kebakaran. Posko tersebut menjadi pusat patroli rutin, deteksi dini titik panas, sosialisasi kepada masyarakat hingga pemadaman awal sebelum api meluas.

“Kalau pemadaman lewat darat terkendala karena lokasi sulit dijangkau atau tidak tersedia sumber air, kami langsung berkoordinasi dengan tim udara untuk melakukan pemadaman dari udara,” ujarnya.

Selain itu, patroli lapangan terus dilakukan berdasarkan informasi titik panas (hotspot) yang diterima setiap hari. Hingga kini, jumlah hotspot di Provinsi Jambi tercatat mendekati 2.000 titik.

Namun demikian, Bachyuni menegaskan hotspot tidak selalu berarti terjadi kebakaran karena sebagian dapat dipicu oleh pantulan panas dari permukaan tertentu. Karena itu, seluruh titik tetap diverifikasi melalui patroli darat.

“Setiap hotspot yang muncul kami cek satu per satu. Misalnya hari ini ada sekitar 30 hotspot, semuanya dipastikan di lapangan apakah benar ada api atau hanya pantulan panas,” katanya.

Untuk wilayah lahan gambut, kebakaran paling banyak ditemukan di Kecamatan Rantau Panjang dan Air Merah, Kabupaten Muaro Jambi, serta beberapa lokasi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Sementara kebakaran di Kecamatan Betara, Tanjung Jabung Barat, terjadi di kawasan perbukitan dan bukan lahan gambut.
Di sisi lain, BPBD bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga masih menyiapkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) apabila kondisi atmosfer memungkinkan. Saat ini satu unit pesawat Cassa telah disiagakan di Jambi untuk patroli udara maupun penyemaian garam jika terbentuk bibit awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Menghadapi puncak musim kemarau, BPBD kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari tindakan yang dapat memicu kebakaran, termasuk membuang puntung rokok sembarangan.

“Penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan petugas. Kami mengajak seluruh masyarakat ikut menjaga lingkungan dengan tidak membuka lahan menggunakan api. Sekecil apa pun sumber api, dalam kondisi kemarau seperti sekarang sangat berpotensi memicu kebakaran yang lebih besar. Pencegahan adalah langkah terbaik agar karhutla tidak terus meluas,” tutup Bachyuni. (red)

Pos terkait