Warning BMKG! Puncak Kemarau di Jambi Berdampak Karhutla dan Kekeringan

Loading

JAMBI- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi mengeluarkan peringatan dini menjelang puncak musim kemarau 2026. Cuaca yang diperkirakan lebih panas dan lebih kering dibanding tahun sebelumnya dinilai berpotensi meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, hingga berkurangnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi, Ibnu Sulistyono, mengatakan puncak musim kemarau di Provinsi Jambi diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026. Pada periode tersebut, curah hujan diprediksi hanya berkisar 50 hingga 200 milimeter per bulan, bahkan di sejumlah daerah berpotensi kurang dari 150 milimeter per bulan.

Kondisi itu diperkirakan memicu meningkatnya risiko munculnya titik panas (hotspot). BMKG memproyeksikan lebih dari 70 persen wilayah Jambi masuk kategori risiko tinggi karhutla selama puncak musim kemarau.

Daerah yang diprediksi memiliki tingkat kerawanan tinggi meliputi Kabupaten Batanghari, Bungo, Merangin, Muaro Jambi, Sarolangun, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Tebo, serta Kota Jambi.

“Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panas dan lebih kering. Karena itu, seluruh pihak harus meningkatkan kewaspadaan sejak dini agar potensi karhutla dapat dicegah sebelum memasuki puncak kemarau,” kata Ibnu, Sabtu (18/7/2026).

BMKG mengingatkan ancaman musim kemarau tidak hanya memicu kebakaran hutan dan lahan. Berkurangnya curah hujan juga berpotensi menyebabkan kekeringan, penurunan debit sungai, terbatasnya pasokan air bersih, meningkatnya risiko kebakaran permukiman, hingga berdampak terhadap sektor pertanian.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi mencatat, hingga 6 Juli 2026, luas lahan yang terbakar telah mencapai 139,21 hektare. Pemerintah Provinsi Jambi juga telah menetapkan delapan kabupaten berstatus siaga darurat karhutla sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau.

Melihat tingginya potensi tersebut, BMKG meminta Pemerintah Provinsi Jambi bersama pemerintah kabupaten dan kota memperkuat langkah mitigasi melalui patroli rutin di kawasan rawan, memastikan ketersediaan sumber air, menyiapkan personel dan peralatan pemadaman, serta memperkuat koordinasi lintas instansi agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila terjadi kebakaran.

BMKG juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, menggunakan air secara hemat selama musim kemarau, serta rutin memantau informasi prakiraan cuaca dan iklim yang dikeluarkan BMKG.

“Pencegahan jauh lebih efektif daripada penanganan. Jangan membuka lahan dengan cara membakar dan mari bersama-sama menjaga Jambi dari ancaman karhutla selama musim kemarau berlangsung,” ujar Ibnu.

Dengan potensi cuaca kering yang diperkirakan berlangsung hingga September, BMKG berharap sinergi pemerintah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat terus diperkuat agar dampak karhutla maupun kekeringan dapat diminimalkan sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih luas. (red)

Pos terkait