Kisah Difabel di Jambi Bernama Dimas, Dua Kali Gelar Cumlaude Demi Mimpi jadi Tenaga Pendidik

Loading

JAMBI– Toga hitam itu masih tergantung rapi di kamarnya. Di sampingnya, dua ijazah yang diperoleh dengan penuh perjuangan tersimpan dalam map berwarna biru. Sesekali Dimas Dwi Putra membukanya, bukan untuk mengenang masa lalu, melainkan mengingatkan dirinya bahwa perjalanan itu belum selesai.

Bagi Dimas Dwi Putra, pendidikan bukan sekadar tentang meraih gelar atau memperoleh nilai terbaik. Pendidikan adalah cara untuk membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah membatasi seseorang dalam bermimpi.

Begitulah, kisah pemuda asal Jambi yang merupakan penyandang disabilitas cerebral palsy itu telah menuntaskan pendidikan sarjana hingga magister dengan predikat cumlaude. Di balik dua gelar akademik yang diraihnya, anak kedua dari dua bersaudara ini masih menyimpan cita-cita yang belum terwujud, yakni mengabdikan diri sebagai aparatur sipil negara di bidang pendidikan.

“Saya percaya setiap orang memiliki kesempatan untuk berhasil. Mungkin jalannya berbeda, tetapi selama kita mau berusaha, selalu ada harapan,” kata Dimas saat diwawancarai lewat sambungan telepon, Senin (13/7/2026)

Perjalanan menuju titik itu bukan sesuatu yang mudah. Sejak kecil, Dimas harus hidup dengan cerebral palsy yang memengaruhi kemampuan gerak tubuhnya. Aktivitas yang bagi banyak orang terasa sederhana sering kali membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar baginya.

Meski demikian, ia memilih untuk tidak menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti melangkah. Meski langkahnya tak secepat orang kebanyakan, tetapi semangatnya selalu berjalan lebih dulu.

“Kalau saya melihat kondisi fisik terus, mungkin saya sudah menyerah sejak lama. Tapi saya memilih melihat apa yang masih bisa saya lakukan, bukan apa yang tidak bisa saya lakukan,” ujarnya

Keyakinan itulah yang mengantarkannya menyelesaikan pendidikan Strata 1 di Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi. Saat namanya dipanggil sebagai salah satu lulusan terbaik dengan predikat cumlaude, Dimas merasa semua perjuangan yang dilaluinya terbayar.

Namun gelar sarjana ternyata belum mampu memuaskan dahaganya akan ilmu. Ia kembali melanjutkan pendidikan Magister Aqidah dan Filsafat Islam di kampus yang sama.

Selama satu setengah tahun, Dimas menekuni kajian filsafat Islam hingga menyelesaikan tesis berjudul Konsep Wahdat al-Wujud. Pada November 2025, ia kembali berdiri di atas panggung wisuda. Lagi-lagi, namanya diumumkan sebagai lulusan cumlaude dengan IPK 3,77.

“Bagi saya, cumlaude bukan tujuan. Itu hanya bonus dari usaha yang saya lakukan. Yang paling penting adalah ilmu yang saya dapat bisa bermanfaat untuk orang lain,” kata dia

Foto : Dimas saat meraih gelar S2 nya di UIN Jambi (dok : Pribadi Dimas)
Foto : Dimas saat meraih gelar S2 nya di UIN Jambi (dok : Pribadi Dimas)

Di balik capaian akademik itu, anak dari Zulhamidi dan Siti Zahra ini ada kisah yang jarang diketahui banyak orang. Selama menempuh pendidikan, Dimas hampir tak pernah sendiri. Ibunya, Siti Zahara, menjadi orang yang paling setia mendampinginya. Sang ibu mengantar, menunggu hingga perkuliahan selesai, lalu kembali pulang bersama putra yang tak pernah berhenti mengejar cita-cita.

“Saya tidak mungkin bisa sampai di titik ini tanpa doa orang tua. Terutama ibu saya. Beliau selalu ada menemani saya, bahkan ketika saya sendiri merasa lelah,” ucap Dimas.

Ia mengaku sering kali merasa lelah secara fisik. Namun setiap kali rasa putus asa datang, ia memilih mengingat alasan mengapa dirinya memulai semua perjuangan itu.

“Saya selalu bilang ke diri saya sendiri, jangan menyerah. Kalau saya menyerah, perjuangan orang tua saya juga akan sia-sia.” akunya

Foto : Ibu Dimas yakni Siti Zahra yang selalu membangkitkan semangat Dimas dalam raih gelar S2 nya (dok Pribadi)
Foto : Dimas bersama ibu tercintanya Siti Zahra (dok Pribadi)

Selain keluarga, Dimas juga menyimpan rasa hormat kepada almarhum Prof. As’ad Isma, mantan Rektor UIN STS Jambi. Menurutnya, almarhum menjadi sosok yang banyak memberikan motivasi kepada mahasiswa penyandang disabilitas.

“Beliau selalu mengatakan bahwa kami harus percaya diri. Jangan pernah merasa rendah karena kondisi fisik. Kalimat itu yang sampai sekarang selalu saya ingat,” kenang Dimas.

Meski kini telah bergelar magister, jalan yang ingin ditempuh Dimas belum sepenuhnya terbuka.

Sejak diwisuda pada November 2025, ia belum mendapat kesempatan menjadi tenaga pendidik ataupun bekerja di kampus yang sangat dicintainya. Padahal sejak lama ia memendam keinginan untuk mengajar di almamaternya sendiri.

“Saya memang berharap bisa mengabdi di UIN STS Jambi. Tapi kalau sampai hari ini belum ada kesempatan, saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Mungkin Allah sedang menyiapkan waktu yang terbaik,” katanya.

Foto : Moment Dimas mendatangi makam mantan Rektor UIN yang sangat Dihormatinya
Foto : Moment Dimas kunjungi makam Ex Rektor UIN yang sangat Dihormatinya (dok Pribadi)

Baginya, harapan tidak boleh berhenti hanya karena kenyataan belum berpihak. Dimas kini mempersiapkan diri mengikuti seleksi CPNS jika formasi di bidang pendidikan kembali dibuka. Ia ingin mengabdikan ilmu yang dimilikinya sebagai ASN.

“Saya ingin menjadi abdi negara. Saya ingin mengajar. Saya ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga bisa memberikan kontribusi bagi bangsa jika diberi kesempatan.” sebutnya.

Mimpi itu bahkan belum menjadi akhir. Dimas masih ingin melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor. Ia berharap suatu hari bisa kembali ke kampus yang membesarkannya, bukan sebagai mahasiswa, tetapi sebagai dosen.

“Kalau Allah memberikan rezeki, saya ingin kuliah S3. Saya ingin menjadi doktor dan mengajar di kampus tempat saya dulu belajar,” terang Dimas.

Baginya, UIN STS Jambi bukan sekadar tempat memperoleh ijazah. Di kampus itu, Dimas mengaku belajar bahwa penyandang disabilitas tidak dibedakan. Dia menyebut jika diberi ruang untuk berkembang, hingga dia bermimpi suatu hari bisa kembali dan mengabdi di sana.

Meski belum bekerja, Dimas tak pernah membiarkan ilmunya berhenti. ia terus membaca, menulis, dan memperdalam kajian filsafat Islam. Jika suatu hari cita-citanya menjadi ASN atau dosen belum juga tercapai, ia tetap ingin menebarkan manfaat melalui tulisan.

“Kalau saya belum bisa mengajar di kelas, mungkin saya bisa mengajar lewat tulisan. Yang penting ilmu itu tidak berhenti di diri saya,” ucap pria kelahiran 25 Mei 2002 itu.

Di akhir perbincangan, Dimas menyampaikan satu harapan yang sederhana.

Bagi Dimas, Tuhan mungkin tidak memberinya tubuh yang sempurna. Namun Tuhan memberinya keyakinan untuk terus berjalan, bahkan ketika jalan itu jauh lebih berat daripada yang dilalui kebanyakan orang.

Hari ini ia memang belum mengenakan seragam ASN. Ia juga belum berdiri di depan kelas sebagai dosen. Tetapi satu hal telah ia buktikan kepada banyak orang: mimpi tidak pernah ditentukan oleh kesempurnaan fisik, melainkan oleh keberanian untuk terus melangkah, meski dunia berkali-kali menguji langkah itu.

“Saya tidak ingin masyarakat melihat kami karena kekurangan kami. Lihatlah kemampuan kami. Berikan kesempatan yang sama, maka kami akan berusaha memberikan hasil yang terbaik,” tegas Dimas.

Menurut Dimas, setiap pencapaian yang diraihnya bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bekal untuk memberi manfaat bagi orang lain.

“Ilmu akan berarti kalau bisa dibagikan. Itu yang selalu saya pegang sampai hari ini,” tuturnya. (Fer)

Pos terkait