Dulu Jadi OB Hotel, Kini Anak Kuli Bangunan Asal Jambi Wujudkan Mimpi jadi TNI

Loading

Jambi– Mimpi tak pernah memilih lahir dari keluarga seperti apa. Keterbatasan ekonomi bukanlah alasan untuk menyerah. Justru dari kehidupan yang sederhana, tekadnya ditempa hingga akhirnya berhasil mewujudkan cita-cita menjadi prajurit TNI.

Jalan menuju kesuksesan tak selalu dimulai dari kehidupan yang serba berkecukupan. Ada yang harus berjuang dari bawah, bekerja sambil menahan lelah, hingga menemukan jalannya menuju impian.

Kisah itulah yang tergambar dari perjalanan hidup Ramadan Putra Deka atau yang akrab disapa Madan, pemuda berusia 20 tahun asal Jalan Batam, Lorong Tukang Jahit, Kelurahan Lebak Bandung, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.

Di balik senyumnya dan akan menggunakan seragam TNI setelah selesai pendidikan nanti, tentu tersimpan perjalanan panjang yang penuh perjuangan.

Madan merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia lahir dan dibesarkan dari keluarga sederhana. Sang ayah, Firdaus (50), bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan yang bergantung pada ada atau tidaknya proyek. Sementara ibunya, Lili (45), bekerja sebagai asisten rumah tangga demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Kondisi ekonomi keluarga tak pernah membuat Madan berkecil hati. Sejak kecil, ia memahami bahwa kedua orang tuanya bekerja keras agar dirinya dan sang adik tetap bisa mengenyam pendidikan.

Usai menyelesaikan pendidikan di SMKN 4 Jambi pada 2 tahun lalu, Madan tidak memilih berdiam diri menunggu kesempatan datang. Ia memutuskan bekerja sebagai Office Boy (OB) di salah satu hotel di Kota Jambi.

Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin dipandang sebelah mata. Namun, bagi Madan, pekerjaan bukan tentang gengsi, melainkan tentang tanggung jawab.

Setiap hari ia membersihkan ruangan, mengangkat barang, dan memastikan lingkungan hotel tetap bersih. Di sela kesibukan bekerja, ia tetap menyisihkan waktu untuk berolahraga, berlatih fisik, dan mempersiapkan diri menghadapi seleksi TNI.

Rasa lelah seolah menjadi bagian dari rutinitasnya. Pagi hingga sore bekerja, malam hari digunakan untuk berlatih dan belajar. Semua dilakukan demi satu tujuan yang terus ia genggam erat, yakni menjadi seorang prajurit TNI.

Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis. Madan kini lulus menjadi calon prajurit siswa TNI dan akan menjalani pendidikan selama 4 bulan lamanya nanti.

Saat ini, air mata bahagia mengalir dari kedua orang tuanya yang selama bertahun-tahun berjuang membesarkan anak-anak mereka di tengah keterbatasan ekonomi.

Keberhasilan Madan bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menjadi bukti bahwa mimpi tidak pernah memandang latar belakang seseorang.

Teman sekaligus abang angkat Madan, Afrizal, mengaku sangat bangga melihat perjalanan hidup pemuda tersebut. Menurutnya, keberhasilan Madan lahir dari proses panjang yang tidak semua orang mampu menjalaninya.

“Saya mengenal Madan sebagai pribadi yang rendah hati dan pekerja keras. Dia tidak pernah mengeluh dengan keadaan keluarganya. Saat teman-teman seusianya mungkin menikmati waktu luang bermain nikmati masa muda, tetapi Madan justru memilih bekerja dan kemudian mengikuti seleksi TNI. Dia tidak pernah malu bekerja meski jadi bersih-bersih hotel karena baginya pekerjaan itu halal dan menjadi jalan untuk membantu orang tua,” ujar Afrizal, Minggu (12/7/2026)

Afrizal mengatakan, selama proses seleksi, Madan juga terus menjaga disiplin. Hampir setiap hari ia melatih fisik, memperbaiki kemampuan diri, dan tetap menjaga semangat meski berkali-kali dihadapkan dengan rasa lelah.

“Banyak orang hanya melihat hasil akhirnya. Padahal, mereka tidak melihat bagaimana Madan bangun pagi, bekerja, pulang dalam kondisi lelah, tetapi saya kagumi dia tetap punya tekad buat jadi TNI. Dia membuktikan bahwa mimpi besar hanya bisa diraih oleh orang yang mau berjuang lebih keras dari yang lain,” katanya.

Menurut Afrizal, kisah Madan menjadi pesan kuat bagi generasi muda, khususnya di Jambi, agar tidak mudah menyerah hanya karena berasal dari keluarga sederhana.

“Jangan pernah minder karena orang tua hanya buruh, petani, pedagang kecil atau kuli bangunan. Jangan pernah malu bekerja apa pun selama halal. Yang menentukan masa depan bukan keadaan kita hari ini, tetapi seberapa besar kemauan kita untuk berubah. Madan sudah membuktikan itu. Saya berharap kisahnya bisa menjadi penyemangat bagi anak-anak muda terutama di lorong jahit ini, agar anak-anak muda nya bisa mencontoh kisah Madan,” sebutnya

Afrizal yang kerap disapa Ijal itu mengatakan bahwa mimpi itu bukan milik orang kaya saja, tetapi milik siapa pun yang mau berusaha, berdoa, dan tidak menyerah.

Bagi Ijal, perjalanan Madan menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak lahir dari kehidupan yang selalu mudah. Justru dari keterbatasan, seseorang belajar arti perjuangan, disiplin, dan kerja keras.

“Ini menjadi bukti bahwa tidak ada pekerjaan yang memalukan, yang memalukan adalah ketika seseorang menyerah sebelum mencoba. Meski dulu pernah jadi OB tetapi kini Madan sudah mewujudkan mimpi nya itu, dan berhasil jadi Abdi Negara,” terangnya

Kisah Madan mencontohkan kita saat ini, meski di balik tangan ayah yang kasar karena mengangkat semen dan batu, serta pengorbanan seorang ibu yang bekerja membersihkan rumah orang lain, lahirlah seorang anak yang berhasil mengubah harapan menjadi kenyataan.

Mimpi memang tidak bisa dibeli dengan uang. Namun mimpi akan selalu datang kepada mereka yang berani bekerja keras, menjaga doa, menghormati orang tua, dan tidak pernah menyerah oleh keadaan. Hari ini, Ramadan Putra Deka telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal menuju masa depan yang lebih baik. (Redaksi)

Pos terkait