Di Jalan Hijrah, Beton Mengeras- Harapan Tumbuh Berkat Kemas Faried

Loading

Jambi- Pagi itu, Jalan Hijrah di RT 17 Kelurahan Simpang Rimbo, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi tak seperti biasanya. Di ruas jalan yang selama bertahun-tahun akrab dengan keluhan warga, akhirnya mulai dibenahi.

Hari itu, bunyi mesin pengaduk beton memang terdengar bising namun menyenangkan hati, gesekan sekop para pekerja, dan langkah kaki warga yang datang silih berganti terlihat jelas. Disana, mereka bukan hanya untuk melihat jalan saja, tetapi mereka memasati jika jalan rusak yang mereka lalui sebelumnya akan jadi lebih baik dari apa yang dirasakan dulu.

Jalan Hijrah ini merupakan, akses utama yang selama ini menjadi urat nadi mobilitas warga, jalan sepanjang 50 meter itu diperbaiki dengan cara di rigidbeton. Ini mungkin memang tak terlalu panjang, tak pula terlihat megah.

Bagi warga RT 17, ruas pendek itu menyimpan cerita tentang penantian, tentang akses utama yang setiap hari mereka lalui, dan tentang harapan yang berkali-kali disampaikan agar suatu hari benar-benar didengar.

Jalan Hijrah bukan sekadar badan jalan. Ia adalah denyut kehidupan lingkungan itu. Dari sanalah kendaraan keluar masuk membawa denyut aktivitas ratusan keluarga.

Setiap roda yang melintas, setiap langkah kaki yang menapak, seolah menyimpan cerita tentang bagaimana jalan itu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian warga.

Ketua RT 17, Samsul, menjadi salah satu yang paling merasakan kebahagiaan itu. Di tengah aktivitas warga yang menyaksikan proses pengecoran, ia menyampaikan rasa syukur yang sederhana, tetapi penuh makna.

“Kami merasa sangat bangga dan bahagia. Karena Jalan Hijrah ini akses utama warga. Bukan hanya kampung biasa, di RT kami ada perumahan besar 456 unit dan 175 KK di luar perumahan. Terima kasih kepada Bapak Kemas Faried Alfarelly yang tidak hanya mendengarkan, tapi gerak cepat. Tidak lebih dari 3 hari jalan kami langsung dicor rigid beton,” kata, Samsul, Jumat (8/5/2026).

Namun, cerita di RT 17 rupanya belum selesai pada Jalan Hijrah.
Tak jauh dari sana, terbentang Lorong Hijrah 1 sepanjang sekitar 400 meter. Jalur lingkungan itu masih menyisakan cerita lama tentang jalan yang butuh perhatian. Saat hujan, genangan dan tanah lunak menjadi tantangan. Saat kemarau, debu beterbangan menjadi teman perjalanan warga.

Kata Samsul, jalan 400 meter di Hijrah 1 sudah puluhan tahun tak pernah tersentuh perbaikan. Selama ini, segala cara telah mereka coba agar jalan itu bisa dibantu perbaikannya.

Samsul bahkan berharap, nantinya setelah jalan yang awal telah diperbaiki, kelak jalan berikutnya pun juga sama.

“Warga RT 17 berharap perhatian terhadap infrastruktur jalan terus berlanjut, khususnya untuk Lorong Hijrah 1 dan akses lingkungan lainnya,” ujar Samsul.

Ketika aspirasi warga disampaikan, yang muncul bukan sekadar permintaan pembangunan. Yang terasa justru harapan sederhana, yakni agar lingkungan tempat mereka hidup ikut tumbuh, ikut diperhatikan, dan ikut merasakan pembangunan yang benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari.

Perbaikan jalan Hijrah itu juga tak lepas dari upaya Kemas Faried Alfarelly yang kini menjabat selaku Ketua DPRD Kota Jambi. Saat itu, Faried bukan hanya sekadar menerima laporan, dan membantu pengecoran, tetapi ia hadir sekaligus melihat kondisi lapangan, berdialog dengan masyarakat, lalu mendorong agar kebutuhan dasar warga segera mendapat penanganan.

Bahkan, usai melihat proses pengecoran Jalan Hijrah, Kemas Faried tak langsung beranjak. Dengan sepeda motor, ia ikut menyusuri lorong-lorong lingkungan bersama warga yang membutuhkan sentuhan pembangunan jalan.

Sebuah momen sederhana yang bagi warga meninggalkan kesan mendalam, bahwa kehadiran pemimpin bukan hanya terlihat saat meresmikan pembangunan, tetapi juga ketika mau datang, mendengar, dan menyapa kehidupan masyarakat dari dekat.

Bagi Kemas Faried, pembangunan tak semata soal beton yang mengeras, melainkan tentang memastikan masyarakat merasakan hadirnya perhatian.

Ini memang sudah menjadi tugas dia untuk mendengar, melihat langsung, lalu memperjuangkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Jalan lingkungan, fasilitas dasar, hingga persoalan sosial warga adalah bagian yang harus nya memang jadi perhatiannya selaku Wakil Rakyat.

Selama membantu dan hadir, Faried bukan cuman selesai lewat laporan. Namun dia memilih melihat langsung kondisi di lapangan. Bersama warga, ia menyusuri jalan-jalan lingkungan, mendengar cerita, menerima masukan, sekaligus menangkap satu pesan yang sama, yaitu warga ingin pembangunan hadir lebih dekat dengan kebutuhan mereka.

Di sudut Simpang Rimbo itu, pembangunan tak lagi hanya soal cor beton dan panjang jalan. Ia berubah menjadi cerita tentang harapan, tentang perhatian, dan tentang keyakinan bahwa di jalan kecil bernama Hijrah, masa depan yang lebih baik perlahan sedang dibangun.

Bagi RT 17 Simpang Rimbo, hari itu bukan hanya tentang jalan yang diperbaiki. Tetapi tentang harapan yang mulai menemukan jalannya

Bagi warga disana, perbaikan jalan bukan sekadar pembangunan, tetapi bagaimana suara mereka sampai, bahwa harapan mereka didengar, dan bahwa perubahan, sekecil apa pun langkahnya, selalu berarti besar bagi mereka yang telah lama menunggu. (Fer)

Pos terkait