Deretan Kasus Karhutla Sejak 2 Dekade, 2015-2019 Jadi Catatan Buruk Kabut Asap di Jambi

Loading

Jambi– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi bencana yang berulang di Provinsi Jambi dalam dua dekade terakhir. Dari era Gubernur Zulkifli Nurdin, Hasan Basri Agus, Zumi Zola, Fachrori Umar hingga pemerintahan Al Haris, api terus menjadi ancaman setiap musim kemarau.

Namun, ada dua periode yang meninggalkan catatan paling buruk yaitu 2015 dan 2019. Pada dua tahun itu, kebakaran meluas, asap mengepung permukiman, kualitas udara jatuh ke level berbahaya, sekolah diliburkan dan aktivitas penerbangan ikut terganggu.

Bahkan pada 2015, kabut asap disebut menjadi yang terparah dan terlama dalam sejarah karhutla Jambi. Warga harus beraktivitas di tengah asap selama sekitar empat bulan, dari Juli hingga Oktober.

Dari zaman ke zaman Era Gubernur Jambi Karhutla Sudah Jadi Ancaman

Karhutla bukan persoalan yang baru muncul satu atau dua periode pemerintahan terakhir. Pada 2006, ketika Jambi dipimpin Gubernur Zulkifli Nurdin, kebakaran hutan dan lahan juga menjadi persoalan serius.

Kala itu, data yang dicatat pemerintah menunjukkan ribuan hektare hutan dan lahan terbakar. Ancaman kebakaran terutama meningkat ketika memasuki musim kemarau dan kondisi lahan mengering.

Zulkifli Nurdin sendiri memimpin Jambi pada periode 2005-2010. Setelah itu, pemerintahan dilanjutkan Hasan Basri Agus pada 2010-2015.

Artinya, persoalan karhutla sudah menjadi pekerjaan rumah lintas gubernur. Bedanya, skala bencana dan dampaknya berubah dari satu periode ke periode berikutnya.

Di tahun 2015, karhutla Jambi jadi yang paling buruk terjadi saat Juli hingga Oktober. Kala itu, Jambi masih dipimpin oleh Gubernur HBA, namun saat periode HBA berakhir Agustus, Karhutla yang terjadi begitu parah pada bulan September serta Oktober.

Di masa itu, kepempinan Jambi dipimpin oleh Pj Gubernur Irman, di era itu karhutla Jambi begitu meningkat. Kabut asap begitu melonjak hingga begitu banyak dampak dirasakan.

Ketika itu, sekitar 60 ribu warga mengalami gangguan kesehatan akibat ISPA. Aktivitas belajar-mengajar juga lumpuh.

Data KLHK yang kemudian dilihat, mencatat luas karhutla Jambi pada 2015 mencapai 115.634 hektare. Masa itu, total lahan dan hutan yang terbakar pada 2015 sekitar 130 ribu hektare, dengan 1.564 hotspot.

Angka itu membuat 2015 menjadi salah satu tahun terburuk dalam sejarah karhutla Jambi. Di masa itu pula, asap tidak hanya menutup langit. Rumah sakit juga dipenuhi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat ISPA selama bencana asap tersebut.

Sekolah ikut terdampak. Ribuan pelajar dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA harus diliburkan karena kabut asap semakin pekat. Kebijakan itu diambil untuk menghindarkan anak-anak dari paparan asap yang berisiko terhadap kesehatan.

Bukan hanya pendidikan. Penerbangan dari dan menuju Jambi juga sempat lumpuh akibat jarak pandang yang buruk. Bandara Sultan Thaha tidak bisa beroperasi normal dan maskapai ikut mengalami kerugian.

Di tahun itu juga, kerugian materi akibat karhutla 2015 mencapai sekitar Rp12 triliun. Nilai tersebut belum memasukkan kerugian akibat gangguan kesehatan, pendidikan dan dampak lingkungan.

Setelah Bencana 2015, Pemerintah Perketat Penanganan

Besarnya dampak 2015 membuat penanganan karhutla menjadi perhatian serius pada tahun-tahun berikutnya.

Setelah Gubernur masa Zumi Zola, di pemerintah nya langsung memperkuat Satgas Karhutla. Dimana sebelum masa kepemimpinannya karhutla jadi pengingat hingga dirinya dilantik, Zola langsung melibatkan TNI, Polri, BNPB, Manggala Agni dan masyarakat peduli api.

Dia juga mengerahkan peralatan pemadaman yang disiagakan, termasuk pompa, mobil pemadam hingga helikopter water bombing. Waktu itu, Zumi juga menegaskan perusahaan yang lalai menangani kebakaran di wilayahnya dapat direkomendasikan untuk dicabut izinnya.

Dampaknya mulai terlihat. Zumi Zola menyebut pada 2016 jumlah hotspot di Jambi berhasil ditekan hingga 82 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemerintah dan DPRD Jambi juga memperkuat payung hukum. Perda Nomor 2 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Pengendalian Karhutla serta Pergub Nomor 31 Tahun 2016 kemudian menjadi bagian dari kebijakan pengendalian karhutla.

Karhutla kemudian kembali menjadi ancaman pada 2018.

Pada tahun itu, Zumi Zola masih berstatus Gubernur Jambi hingga dirinya dinonaktifkan setelah tersangkut perkara hukum. Fachrori Umar kemudian ditunjuk sebagai Plt Gubernur pada April 2018.

Memasuki periode tersebut, pemerintah kembali menghadapi kebakaran di sejumlah wilayah. Namun skala kebakaran belum mendekati bencana 2015.

Ancaman justru kembali membesar pada tahun berikutnya. Pada 2019, Kabut Asap Kembali Mengepung Jambi, dimasa tersebut tentu warga juga menolak lupa, dimana tahun itu juga menjadi catatan buruk kabut asap karhutla.

Pada tahun itu, dari data KLHK yang dilihat, mencatat luas karhutla Jambi pada 2019 mencapai 56.593 hektare.
Angka tersebut memang masih di bawah 2015, tetapi dampak asapnya kembali sangat terasa.

Pada Agustus 2019, kualitas udara Jambi bahkan masuk kategori berbahaya. Pemerintah harus mengambil langkah untuk meliburkan sekolah.

Tidak berhenti di situ. Pada September, kualitas udara kembali memburuk. Data AQMS DLHD Kota Jambi mencatat konsentrasi PM2.5 bahkan sempat mencapai 1.175, yang masuk kategori berbahaya.

Di masa 2019 itu, sekolah kembali diliburkan. Bahkan Pemkot Jambi memperpanjang libur sekolah tingkat TK/PAUD, SD dan SMP karena kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Beberapa hari kemudian, kebijakan tersebut diperluas hingga tingkat SMA.

Pemkot Jambi kembali meliburkan sekolah dari TK/PAUD, SD, SMP hingga SMA pada 23-25 September 2019 akibat kondisi udara yang memburuk.

Bahkan, di tahun 2019 kabut asap ini sempat membuat langit Jambi Menguning hingga Memerah. Itu tentu juga jadi salah satu gambaran paling dramatis dari karhutla 2019 terjadi.

Fenomena langit memerah itu terlihat jelas di wilayah Muaro Jambi pada 21 September 2019. BMKG Jambi menjelaskan perubahan warna tersebut terjadi karena asap tebal menghalangi sinar matahari sehingga cahaya yang sampai ke permukaan bumi berubah warna.

Kondisi serupa juga dilaporkan pada Oktober 2019. Langit Kota Jambi kembali terlihat menguning hingga memerah akibat kabut asap yang semakin pekat.

Warga bahkan menggambarkan suasana sekitar pukul 15.00 WIB seperti menjelang malam. Asap tidak hanya membuat jarak pandang terbatas, tetapi juga membuat bau dan partikel asap terasa menusuk hidung serta mengganggu pernapasan.

Kabut asap 2019 juga kembali mengganggu aktivitas penerbangan.

Jarak pandang di sejumlah wilayah Jambi turun drastis sehingga penerbangan tidak dapat berjalan normal. Kondisi tersebut menunjukkan dampak karhutla tidak berhenti di kawasan yang terbakar, tetapi merembet ke aktivitas ekonomi dan transportasi.

Di tengah kondisi tersebut, mahasiswa bahkan menggelar aksi di Kantor Gubernur Jambi pada September 2019. Mereka menyoroti buruknya kondisi kabut asap dan mendesak pemerintah memperkuat penanganan karhutla.

Namun, di tahun itu, Pemerintah juga tidak tinggal diam hingga mengerahkan satgas Karhutla untuk melakukan pemadaman darat dan udara. Pemerintah juga menyiapkan sekat kanal dan sumur bor, terutama untuk menghadapi kebakaran di kawasan gambut.

Gubernur nya kala itu Fachrori juga memperkuat pencegahan dengan mengoptimalkan patroli terpadu, pengecekan hotspot di lapangan, penyiapan personel dan sarana prasarana, serta melibatkan perusahaan pemegang izin kehutanan dan perkebunan.

Setelah 2019, Skala Kebakaran Menurun

Bencana besar 2015 dan 2019 kemudian menjadi pelajaran penting bagi pemerintah di Jambi. Pada 2020, karhutla kembali terjadi namun jauh turun dibandingkan 2019

Dalam masa 2020 itu karhutla mencapai lebih dari 11 ribu hektare dalam catatan kepolisian. Jumlah perkara yang ditangani juga turun dari 45 kasus pada 2019 menjadi 13 kasus pada 2020.

Diwaktu itu, pengawasan mulai menggunakan teknologi. Dimana teknologi itu bernama aplikasi Asap Digital yang dipasang di sejumlah lokasi rawan untuk membantu mendeteksi api secara visual dan mempercepat respons petugas.

Pada 2022, Satgas Karhutla Jambi mencatat luas terbakar sekitar 163,95 hektare. Pemerintah juga mengerahkan helikopter water bombing dan memperkuat kerja sama TNI, Polri, BPBD serta Manggala Agni.

Tahun 2023 pun relatif terkendali dibandingkan 2015 dan 2019. Hingga September, Satgas mencatat sekitar 335 hektare terbakar, sementara pada Oktober jumlah tersangka kasus karhutla mencapai 12 orang.

Jika melihat dua dekade terakhir, wajah karhutla Jambi berubah dari waktu ke waktu. Namun hanya saja, pada 2019 ketika karhutla kabut asap bikin langit berubah warna karena pekatnya kabut asap hingga tahun 2015-2019 jadi catatan paling kelam selama karhutla dan kabut asap.

Tidak hanya itu, jika ukurannya adalah luas lahan terbakar, 2015 berada di posisi paling ekstrem berdasarkan data KLHK yang tersedia, yakni 115.634 hektare. Tahun 2019 berada di bawahnya dengan 56.593 hektare.

Jika ukurannya adalah dampak langsung kepada masyarakat, kedua tahun tersebut sama-sama meninggalkan luka.

Pada 2015, asap bertahan berbulan-bulan, pada 2019 pun juga sama. Sua periode itu akhirnya menjadi pengingat bahwa karhutla Jambi bukan sekadar persoalan api.

Ketika gambut terbakar, yang datang bukan hanya asap. Ada sekolah yang berhenti belajar, penerbangan yang terganggu, warga yang harus berobat, aktivitas ekonomi yang tersendat dan langit yang berubah warna.

Kini, setelah lebih dari dua dekade karhutla berulang, kabut asap juga kembali terjadi dalam kejadian karhutla. Di tahun 2026 di kepemimpinan Al Haris, kabut asap mulai terasa mulai cukup pekat.

Sejauh ini, 2026 lahan yang terbakar sudah mencapai 658,29 hektare. Muaro Jambi menjadi daerah dengan luasan lahan terbakar paling tinggi, yakni 264,78 hektare. Data tersebut merupakan rekapitulasi sejak 1 Januari hingga 16 Agustus 2026.

Setelah Muaro Jambi, luas karhutla terbesar tercatat di Batanghari 95,53 hektare, Tanjung Jabung Barat 58,10 hektare, dan Tanjung Jabung Timur 32,71 hektare. Hingga 23 Agustus, pemantauan satelit juga mencatat 3.632 hotspot di Jambi sepanjang tahun ini.

Kabut asap mulai terasa di sejumlah wilayah, termasuk Kota Jambi. Warga mengeluhkan mata perih, bau asap menyengat hingga tenggorokan terasa sakit saat beraktivitas di luar rumah.

Namun, saat ini persoalan kabut asap belum begitu banyak terdampak parah. Apalagi kabut asap yang terjadi juga bukan serta merta asap dari karhutla di Jambi saja melainkan daerah provinsi tetangga.

Karhutla yang luas disana juga membuat kabut asap ikut mengarah ke Jambi sehingga langit Jambi mulai ditutup asap karhutla. Meski begitu karhutla Jambi juga jadi penyumbang kabut asap di daerah lain.

Sejauh ini pula, untuk seluruh aktivitas masih berjalan normal dan sejumlah penerbangan belum begitu banyak tercatat terhambat dampak kabut asap ini.

Aktivitas juga masih aman,
Penanganan karhutla juga terus dilakukan Satgas gabungan melalui patroli darat, pemadaman dan operasi udara.

Semua proses pemadaman api juga dilakukan dilapangan. Hanya saja, persoalan karhutla belum terhenti begitu saja, apalagi musim kemarau akan terus berlanjut hingga September mendatang, sedangkan di Agustus saja kabut asap sudah mulai terasa pekat, lalu hujan juga belum turun sejak 3 minggu ini.

Di tahun 2026 masa kepemimpinan Al Haris, tentu akan menjadi tantangan besar bagaimana penanganan karhutla diatasi sangat baik sehingga rekor terburuk dalam catatan sejarah karhutla dan kabut asap 2015-2019 tidak terulang kembali. (fe)

Pos terkait