Demi Turunkan Hujan, 15 Ton Garam NaCl Disebar di Langit Jambi Selama Sepekan

Loading

JAMBI- Pemerintah terus memperkuat langkah antisipasi menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai meningkat seiring masuknya musim kemarau di Provinsi Jambi. Salah satu upaya yang kini dilakukan yakni melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan yang digelar selama sepekan di sejumlah wilayah rawan.

Dalam operasi tersebut, sebanyak 15 ton garam natrium klorida (NaCl) disiapkan untuk disemai ke awan-awan potensial hujan sebagai upaya meningkatkan curah hujan dan menjaga kelembapan lahan, terutama di kawasan yang rentan terbakar.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jambi, Andre Eko Rinjani, mengatakan operasi modifikasi cuaca berlangsung sejak 5 Juni dan dijadwalkan berakhir pada 12 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari langkah mitigasi yang dilakukan pemerintah bersama BNPB untuk menekan risiko karhutla sejak dini.

“Untuk bahan semai disiapkan sebanyak 15 ton NaCl selama operasi berlangsung,” kata Andre kepada detikSumbagsel, Minggu (7/6/2026).

Operasi modifikasi cuaca melibatkan BNPB, BMKG, dan TNI Angkatan Udara dengan pusat kegiatan di Bandara Sultan Thaha Jambi. Dari lokasi tersebut, pesawat diterbangkan untuk menyasar awan potensial hujan yang terbentuk di berbagai wilayah Provinsi Jambi.

Andre menjelaskan seluruh kabupaten dan kota di Jambi masuk dalam cakupan operasi. Namun, pelaksanaan penyemaian awan lebih diprioritaskan pada daerah-daerah yang memiliki lahan gambut luas karena dinilai memiliki tingkat kerawanan karhutla lebih tinggi saat musim kemarau.

“Wilayah sasaran mencakup seluruh Provinsi Jambi. Namun prioritas utama tetap daerah-daerah gambut yang selama ini memiliki risiko kebakaran lebih tinggi saat musim kemarau,” ujarnya.

Menurut dia, perlindungan terhadap lahan gambut menjadi salah satu fokus utama dalam operasi tersebut. Pasalnya, gambut yang mengalami kekeringan sangat mudah terbakar dan dapat memicu kebakaran dalam skala besar yang sulit dikendalikan.

Selain itu, kebakaran di lahan gambut juga berpotensi menimbulkan kabut asap yang berdampak pada kesehatan masyarakat, aktivitas transportasi, hingga perekonomian daerah. Karena itu, menjaga kelembapan lahan melalui peningkatan curah hujan dinilai menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan.

“Dengan OMC ini kita berharap mampu meningkatkan curah hujan di daerah rawan sehingga kelembapan lahan tetap terjaga dan potensi munculnya titik api dapat ditekan sejak dini,” ujarnya.

Sejak dimulai beberapa hari lalu, operasi hujan buatan telah dilakukan melalui sejumlah sorti penerbangan. Pada tahap awal, penyemaian garam difokuskan di wilayah Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, dan Muaro Jambi yang dikenal memiliki kawasan gambut cukup luas.

Hasil operasi mulai terlihat dengan turunnya hujan di sejumlah wilayah sasaran setelah proses penyemaian dilakukan. Kondisi itu diharapkan dapat membantu mengurangi risiko munculnya titik api di tengah tren penurunan curah hujan yang mulai terjadi.

Saat ini Pemerintah Provinsi Jambi juga masih menetapkan status Siaga Darurat Karhutla yang berlaku sejak 27 April hingga November 2026. Status tersebut menjadi dasar penguatan berbagai langkah mitigasi, termasuk dukungan operasi modifikasi cuaca dari BNPB sebagai bagian dari strategi pencegahan karhutla selama musim kemarau berlangsung. (Didi)

Pos terkait