![]()
JAMBI– Langit masih gelap ketika suara azan subuh mulai memecah dingin pagi. Satu per satu warga datang ke masjid, melangkah pelan membawa sajadah, demi menjalankan ibadah. Di suasana sederhana ini, timbulah Program Subuh Keliling atau Subling yang rutin dijalankan Bupati Merangin M Syukur di daerahnya.
Bukan sekadar agenda ibadah bersama, tetapi perlahan menjadi cara sederhana pemerintah mendekat kepada warganya. ‘Subling’ sudah menjadi tugas penting, agenda rutin dalam seminggu buat Bupati Syukur.
Di program subling, tidak ada panggung besar, tidak ada pula suasana resmi penuh protokol yang kaku. Seusai salat, percakapan kecil mulai tumbuh di sudut-sudut masjid.
Dari suasana subuh yang tenang, dari langkah kecil yang berarti, Bupati Syukur ingin mencoba membaca denyut kehidupan masyarakat secara langsung. Bukan lewat laporan tertulis atau data di atas meja, melainkan dari cerita yang keluar apa adanya dari warga.
Disitu, warga berbicara tentang kehidupan mereka sehari-hari, tentang jalan yang sulit dilalui, biaya hidup, pelayanan kesehatan, hingga harapan sederhana agar pemerintah lebih sering hadir mendengarkan mereka.
“Disini, lewat program ini, tidak ada sekat birokrasi. Yang ada hanya obrolan sederhana yang justru terasa lebih jujur dan dekat,” ucap Syukur, Minggu (17/5/2026).
Program Subling memang jadi waktu yang tepat bagi Syukur buat dapat mendengar langsung keluhan warga dari masjid ke masjid yang ada di desa-desa. Di program itu, Bupati Merangin ini ingin membaca keadaan masyarakatnya dari persoalan yang paling bawah.
Selama program subling dijalankan, Syukur kerap selalu mendengar keluhan warga tentang akses jalan serta pelayanan kesehatan hingga kebutuhan pembangunan daerah. Semua itu ditampung Syukur tidak lagi hanya tertulis di laporan di atas mejannya, tetapi didengar langsung di tengah masyarakat.
Ketika, saat jalankan program Subuh Keliling (Subling) di Kecamatan Bangko Barat, pada Jumat (15/5) lalu. Di hadapan warga, ia menanggapi banyaknya keluhan soal kondisi jalan yang rusak dan sulit dilalui, terutama di sejumlah wilayah pedesaan.
Waktu itu kata Syukur, pemerintah daerah sudah lebih mengutamakan pemantapan jalan agar akses masyarakat tetap terbuka dan aktivitas ekonomi tidak terganggu. Ia menyebut konsep pembangunan di masa kepemimpinannya bukan lagi berfokus pada pengaspalan semata, melainkan memastikan jalan bisa dilalui masyarakat setiap harinya.
“Yang penting masyarakat bisa lewat, jalan lancar, ekonomi tetap bergerak,” sebut Syukur kala Program Subling itu.
Meski Syukur juga mengakui pengerjaan jalan belum bisa dilakukan sekaligus karena masih terkendala proses teknis, mulai dari perencanaan hingga penyesuaian harga di Dinas Pekerjaan Umum (PU). Namun demikian, pemerintah daerah disebut mulai memperkuat penanganan dengan menyiapkan alat berat.
Kata dia, saat ini, Pemerintah Merangin telah membeli dua unit grader dan dua unit bomag untuk membantu membuka akses di daerah yang selama ini sulit dijangkau kendaraan.
“Sekarang kita fokus bagaimana jalan yang sulit dilewati bisa segera difungsikan,” ujarnya.
Selain infrastruktur, Syukur juga menyoroti peningkatan layanan kesehatan di RSUD Merangin. Rumah sakit daerah itu kini telah memiliki layanan pemeriksaan jantung dan pembuluh darah jantung yang sebelumnya belum tersedia.
Dengan adanya fasilitas tersebut, warga Merangin kini tidak perlu lagi dirujuk ke daerah lain seperti Muaro Bungo hanya untuk menjalani pemeriksaan jantung.
Syukur mengatakan layanan itu mulai dimanfaatkan masyarakat dari berbagai daerah, mulai dari Jangkat, Sarolangun hingga wilayah perbatasan Batanghari.
“Pasien dari luar daerah juga sudah mulai berobat ke Merangin,” ungkapnya.
Dalam program Subling yang dijalankan Bupati Merangin, tentu ini bukan sekadar agenda ibadah bersama warga. Program itu perlahan menjadi ruang berbagi cerita, mencari solusi dan memberi optimistis warga kepada pemerintah daerah.
Kata Syukur jika program Subling akan terus dijalankan sebagai ruang silaturahmi sekaligus sarana menyerap kebutuhan masyarakat selama masa kepemimpinannya di Merangin.
Bagi Syukur, di program subling tidak ada meja rapat, di program subling juga tidak ada sekat birokrasi. Namun dari itu, subling dinilai oleh Syukur menjadi program nyata, selain dapat beribadah, tentunya bisa menjalankan obrolan sederhana yang justru terasa lebih jujur dan dekat dengan warganya.
Di tengah pola birokrasi yang sering dianggap berjarak, subling justru menghadirkan pendekatan berbeda. Pemerintah datang bukan hanya membawa program, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.
Bagi sebagian warga, kehadiran pemerintah di masjid-masjid kampung memberi kesan bahwa suara mereka benar-benar didengar. Keluhan yang biasanya hanya menjadi pembicaraan antarwarga kini bisa disampaikan langsung kepada kepala daerah.
Karena itu, Subling perlahan tumbuh hingga awal kepemimpinan Syukur hingga sekarang. Memang, tak semua persoalan daerah bisa selesai dalam satu pertemuan subuh saja. Namun dari langkah kecil mendatangi masjid ke masjid, ada pesan yang perlahan terasa sampai ke warga
Niat Syukur dalam program subling bukan sekadar pemerintah ingin hadir lalu lupa soal aspirasi warga, bukan pula juga hanya sekedar seremoni biasa, tetapi subling menjadi Program yang berada ditengah-tengah kehidupan warga sehari-hari, yang lahir setelah doa-doa subuh dipanjatkan bersama. (Ferdi)







