SKK Migas Kenalkan Operasi Hulu Migas ke 60 Jurnalis di Jambi

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 82?

Loading

JAMBI– Sebanyak 60 jurnalis dari berbagai media di Provinsi Jambi mendapat kesempatan melihat langsung aktivitas industri hulu minyak dan gas bumi (migas) yang selama ini jarang diakses publik.

Melalui Media Field Trip Forum Jurnalis Migas (FJM) Jambi 2026, para wartawan diajak menyaksikan secara langsung penerapan standar keselamatan kerja (HSSE), kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, hingga program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Kegiatan yang digelar SKK Migas Perwakilan Sumbagsel bersama KKKS di Wilayah Kerja Zona 1 Field Jambi pada Selasa (23/6/2026) itu diawali dengan prosedur yang tak biasa.

Seluruh peserta wajib menjalani pemeriksaan kesehatan atau Daily Check Up sebelum diperbolehkan memasuki area operasi migas.

Pemeriksaan meliputi tekanan darah, suhu tubuh hingga kondisi fisik peserta. Setelah dinyatakan layak, para jurnalis mengikuti safety briefing yang menjelaskan prosedur keselamatan, jalur evakuasi, titik kumpul darurat, penggunaan alat pelindung diri (APD), hingga aturan ketat selama berada di lokasi operasi.

“Industri hulu migas merupakan pekerjaan berisiko tinggi. Karena itu standar HSSE berlaku untuk semua, baik pekerja, tamu maupun rekan media,” ujar perwakilan Fungsi HSSE PEP Jambi kepada wartawan, Selasa (23/6/2026).

Pjs Manager Field Jambi PEP, Alfian Mayando, mengatakan media memiliki peran penting dalam menghadirkan informasi yang utuh kepada masyarakat mengenai aktivitas industri migas.

“Melalui kunjungan ini kami ingin menunjukkan bahwa operasi migas dijalankan dengan mengedepankan aspek keselamatan, keandalan, dan tanggung jawab. Media menjadi mitra strategis agar informasi yang diterima masyarakat akurat dan berimbang,” katanya.

Menurut Alfian, transparansi menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap industri hulu migas. Karena itu, para jurnalis diajak melihat langsung berbagai aktivitas di lapangan, termasuk sistem penanggulangan keadaan darurat yang dimiliki perusahaan.

Salah satu agenda yang paling menyita perhatian peserta adalah simulasi Fire Ground HSSE. Tim tanggap darurat memperagakan proses pemadaman kebakaran menggunakan prosedur standar industri migas. Dalam hitungan menit, kobaran api berhasil dikendalikan menggunakan peralatan khusus sesuai jenis sumber kebakaran.

“Latihan ini rutin kami lakukan agar kemampuan personel tetap terjaga. Keselamatan bukan sekadar slogan, tetapi budaya kerja yang diterapkan setiap hari,” ujar Koordinator Tim HSSE.

Dalam sesi diskusi, sejumlah jurnalis mempertanyakan kesiapan perusahaan apabila terjadi kebakaran di sekitar permukiman warga yang berdekatan dengan sumur migas.
Menjawab pertanyaan tersebut, tim HSSE menjelaskan waktu respons maksimal penanganan sekitar 15 menit dengan sistem koordinasi lintas tim. Metode pemadaman juga disesuaikan dengan karakteristik kebakaran.

“Kalau yang terbakar rumah menggunakan air. Tetapi jika sumber apinya berasal dari minyak, penanganannya menggunakan foam agar api tidak semakin meluas,” jelas petugas HSSE.

Sementara itu, Ketua FJM Jambi Mursyid Yusmar Sonsang mengatakan kunjungan lapangan seperti ini menjadi bekal penting bagi jurnalis dalam menghasilkan pemberitaan yang berbasis fakta.

“Jurnalis perlu melihat langsung proses operasional di lapangan sehingga informasi yang disampaikan kepada masyarakat tidak hanya berdasarkan asumsi, tetapi sesuai kondisi sebenarnya,” ujarnya.

Pada penutupan kegiatan, mewakili Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagsel, Kurnia Ari Wijayanti menegaskan Media Field Trip bukan sekadar agenda kunjungan, melainkan bagian dari upaya membangun pemahaman publik mengenai industri hulu migas yang selama ini turut berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

Ia berharap media terus menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi mengenai investasi, operasi migas, hingga berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan SKK Migas bersama KKKS di wilayah kerja mereka. (fe)

Pos terkait