Maulana Buka Peluang Kerja Sama Jambi-Tiongkok, Andalkan Budaya hingga Pariwisata

Loading

JAMBI– Wali Kota Jambi Maulana membawa potensi Kota Jambi ke forum kerja sama pemerintah daerah Indonesia-Tiongkok. Dia menawarkan kolaborasi di bidang budaya, pariwisata, pendidikan hingga ekonomi.

Maulana menjadi salah satu pembicara dalam Dialog Pemerintah Daerah Indonesia-Tiongkok 2026 di Yogyakarta City Hall, Selasa (11/8/2026). Forum tersebut digelar UCLG ASPAC bersama Chinese People’s Association for Friendship with Foreign Countries (CPAFFC), dengan Pemkot Yogyakarta sebagai tuan rumah.

Dalam forum itu, Maulana memaparkan potensi Kota Jambi melalui tema “Jambi City: A Global Gateway for Cultural Harmony”.

Dia memperkenalkan Jambi sebagai kota perdagangan dan jasa yang memiliki kekayaan sejarah, budaya serta keberagaman masyarakat. Menurutnya, modal tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kerja sama dengan kota-kota di luar negeri.

Maulana juga menyoroti sejarah hubungan Indonesia dan Tiongkok yang telah berlangsung sejak masa lalu. Salah satu yang diangkat yakni kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi.

“Hubungan Indonesia dan Tiongkok memiliki sejarah yang panjang. Muaro Jambi menjadi salah satu bukti bahwa sejak masa lampau telah terjalin hubungan peradaban, pendidikan, budaya dan perdagangan yang melintasi batas wilayah,” kata Maulana.

Menurutnya, warisan sejarah tersebut tidak cukup hanya dilestarikan. Potensi itu juga perlu dikembangkan menjadi bagian dari kerja sama masa kini, khususnya untuk pariwisata berbasis sejarah dan budaya.

Maulana menyebut wisatawan asal Tiongkok menjadi salah satu pasar penting bagi Kota Jambi.

“Faktanya turis terbanyak datang ke Kota Jambi 34 persen dari China. Ini wujud dari eratnya hubungan kita sejak masa lalu, people to people,” ujarnya.

Selain pariwisata, Pemkot Jambi membuka peluang kerja sama di sektor pendidikan, ekonomi kreatif, perdagangan, pertukaran budaya hingga tata kelola perkotaan.

Maulana menegaskan kerja sama antarkota tidak boleh berhenti pada pertemuan atau seremoni. Menurutnya, hubungan tersebut harus menghasilkan program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Melalui kerja sama antarkota, kita ingin membangun hubungan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menghasilkan kolaborasi konkret dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Forum tersebut juga menjadi ajang bagi pemerintah daerah Indonesia dan Tiongkok untuk bertukar pengalaman mengenai pembangunan perkotaan. Sejumlah delegasi membahas peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masing-masing daerah.

Bagi Pemkot Jambi, forum ini menjadi kesempatan memperluas jejaring internasional sekaligus memperkenalkan potensi daerah kepada mitra dari Tiongkok.

Maulana berharap kerja sama yang terbangun nantinya dapat membuka peluang investasi, meningkatkan kunjungan wisatawan, memperluas pertukaran pengetahuan dan mendorong ekonomi kreatif.

“Kami ingin potensi budaya, sejarah dan ekonomi Kota Jambi tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga mampu menjadi bagian dari jejaring kerja sama internasional,” pungkasnya. (red/*)

Pos terkait