![]()
JAMBI– Musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir mulai membawa dampak bagi Kota Jambi. Kabut asap tipis terlihat menyelimuti sejumlah kawasan di kota ini. Meski belum mengganggu secara signifikan, masyarakat mulai merasakan perubahan kualitas udara yang ditandai dengan munculnya aroma asap dan berkurangnya jarak pandang pada waktu-waktu tertentu.
Pantauan di papan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) milik Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi, Rabu (6/8/2026), menunjukkan kualitas udara masih berada pada kategori baik. Parameter pencemar udara, seperti PM10, PM2.5, sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), hingga nitrogen dioksida (NO2), masih berada di zona hijau.
Namun, secara visual, lapisan kabut mulai tampak menyelimuti langit Kota Jambi. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah seiring musim kemarau yang semakin panjang.
Salah seorang warga Kota Jambi, Rani, mengaku mulai merasakan perubahan kondisi udara dalam beberapa hari terakhir. Menurut dia, kabut asap kini lebih mudah terlihat, terutama pada pagi dan sore hari.
“Sudah beberapa hari ini memang tidak hujan. Pagi dan sore kabut asap mulai kelihatan. Memang belum tebal, tetapi sudah cukup jelas terlihat,” ujar Rani.
Ia mengatakan, aroma asap kebakaran juga mulai tercium meski belum terlalu menyengat. Karena itu, ia memilih menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah sebagai langkah antisipasi.
“Kalau keluar rumah sekarang sudah pakai masker. Bau asap mulai terasa walaupun belum terlalu menyengat. Mudah-mudahan tidak separah beberapa tahun lalu,” katanya.
Fenomena tersebut terjadi di tengah meningkatnya kasus karhutla di Provinsi Jambi. Pemerintah Provinsi Jambi telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak akhir April hingga November 2026 sebagai langkah menghadapi ancaman kebakaran pada musim kemarau.
Asap akibat kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Paparan asap dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita penyakit saluran pernapasan.
Selain memicu ISPA, paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi mata, batuk, sesak napas, hingga menurunkan kualitas udara apabila konsentrasi partikel halus terus meningkat.
Pengalaman karhutla besar pada 2015 dan 2019 masih membekas di ingatan masyarakat Jambi. Saat itu, kabut asap pekat menyelimuti hampir seluruh wilayah provinsi hingga mengganggu aktivitas masyarakat dan transportasi. Langit Jambi bahkan sempat berubah kemerahan akibat tingginya konsentrasi asap.
Sementara sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah mengatakan ancaman karhutla masih cukup tinggi karena puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga akhir September dan berpotensi berlanjut sampai Oktober.
“Hingga saat ini luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 222 hektare. Akhir Juli ini Jambi memasuki fase puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga akhir September, bahkan bisa sampai Oktober,” ujar Bachyuni kepada wartawan beberapa hari lalu.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun membuang puntung rokok sembarangan. Menurut dia, kondisi vegetasi yang kering membuat api mudah menyebar dan berpotensi memicu kebakaran dalam skala lebih luas.
“Penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan petugas. Kami membutuhkan peran aktif masyarakat untuk mencegah munculnya titik api. Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Pencegahan adalah langkah paling efektif untuk melindungi hutan, lahan, dan masyarakat dari bencana karhutla,” kata Bachyuni. (red)







