![]()
JAMBI- Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membayangi Provinsi Jambi. Di tengah musim kemarau yang belum berakhir, ratusan titik panas terdeteksi di sejumlah wilayah.
BMKG Jambi mencatat sedikitnya 537 titik panas (hotspot) muncul di berbagai daerah selama periode 1-9 Agustus 2026. Kondisi ini menjadi sinyal kewaspadaan karena puncak musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September.
Prakirawan BMKG Jambi M Randy Herdyansyah mengatakan kondisi kemarau masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
“Puncak musim kemarau diperkirakan sampai bulan September 2026 mendatang,” kata Randy kepada wartawan, Rabu (12/8/2026).
Dalam tiga hari ke depan, cuaca di sebagian besar wilayah Jambi diprakirakan cerah hingga berawan. Kondisi tersebut membuat potensi lahan menjadi lebih kering sehingga kewaspadaan terhadap karhutla perlu terus dijaga.
“Prakiraan cuaca di wilayah Provinsi Jambi, tiga hari ke depan cerah hingga berawan,” ujarnya.
Meski dominan cerah dan berawan, bukan berarti seluruh wilayah Jambi tanpa peluang hujan. BMKG masih melihat adanya potensi hujan di wilayah Jambi bagian barat.
Hujan diprakirakan berpeluang terjadi pada 13 dan 16 Agustus 2026, terutama di wilayah seperti Kabupaten Merangin dan Kerinci.
“Dalam seminggu ke depan berpotensi (hujan), pada tanggal 13 dan 16 Agustus yang secara umum berpotensi di Jambi bagian barat,” jelas Randy.
Muaro Jambi dan Sarolangun Dominasi Hotspot
Ratusan hotspot yang terpantau BMKG tersebar di sejumlah kabupaten. Muaro Jambi menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, mencapai 159 titik.
Sarolangun berada di urutan berikutnya dengan 136 titik, disusul Tanjung Jabung Barat sebanyak 74 titik dan Merangin 69 titik.
Berikut sebaran hotspot yang tercatat BMKG pada 1-9 Agustus:
- Batang Hari: 32 titik
- Bungo: 20 titik
- Kerinci: 4 titik
- Merangin: 69 titik
- Muaro Jambi: 159 titik
- Sarolangun: 136 titik
- Tanjung Jabung Barat: 74 titik
- Tanjung Jabung Timur: 14 titik
- Tebo: 29 titik
Jika dijumlahkan, seluruh titik panas tersebut mencapai 537 titik dalam sembilan hari.
BMKG mengingatkan kondisi cuaca di Jambi masih perlu menjadi perhatian selama puncak kemarau. Titik panas yang terdeteksi tidak otomatis berarti terjadi kebakaran, namun keberadaannya dapat menjadi indikator yang perlu dipantau lebih lanjut.
Kewaspadaan terutama diperlukan di wilayah yang memiliki lahan gambut dan kawasan yang mudah terbakar. Pemantauan serta respons cepat menjadi penting untuk mencegah potensi api berkembang menjadi karhutla.
Dengan puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September, ancaman karhutla masih belum berakhir.
Di sisi lain, peluang hujan di sebagian wilayah Jambi memberikan sedikit ruang bagi kondisi lahan untuk mendapatkan kelembapan. Namun hujan yang bersifat lokal tidak serta-merta menghilangkan risiko kebakaran di seluruh wilayah.
Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan, terutama selama cuaca panas dan kering.
Jambi masih menghadapi kemarau. 537 hotspot sudah terpantau, sementara puncak kemarau diperkirakan baru berakhir pada September.







