Ivan Wirata Dorong Penyelamatan DAS Batanghari hingga 2045

Loading

Jambi- Kematian ikan keramba dan tingginya kekeruhan air menjadi perhatian Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata. Ia mendorong penyelamatan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari dilakukan secara terpadu melalui Grand Design Penyelamatan Megasistem DAS Batanghari 2026–2045.

Dorongan tersebut disampaikan setelah Ivan melihat kondisi keramba masyarakat di Desa Sarang Burung, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi. Petani ikan melaporkan kematian ikan dalam jumlah besar yang disebut mencapai puluhan ton.

Menurut Ivan, persoalan tersebut tidak bisa ditangani hanya dengan melihat dampak di kawasan keramba. Pemerintah perlu mengidentifikasi penyebabnya melalui kajian menyeluruh terhadap kualitas air, sedimentasi, erosi, perubahan tutupan lahan, dan tata kelola air dari hulu hingga hilir.

“Ikan mati bukan sekadar persoalan keramba. Ini menjadi alarm bahwa daya dukung Sungai Batanghari sedang menghadapi tekanan. Sumber masalahnya harus ditelusuri dalam satu kesatuan DAS,” ujar Ivan, Senin (10/8/2026).

Ia mengusulkan pemulihan melalui 12 zona strategis, mulai dari kawasan hulu dan daerah resapan, anak sungai, koridor sungai utama, kawasan perikanan, intake air baku, floodplain, kawasan perkotaan, hingga hilir dan muara.

Ivan juga menyoroti laporan kekeruhan air baku yang disebut mencapai sekitar 1.400 NTU. Kondisi tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pengujian dan evaluasi teknis karena berpotensi menambah beban pengolahan air bersih.

Ia mendorong pemerintah, Balai Wilayah Sungai, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pihak terkait menyatukan data hidrologi serta kualitas air sebagai dasar penyusunan kebijakan. Pemulihan juga perlu mencakup rehabilitasi lahan, pengendalian erosi dan pencemaran, restorasi sempadan sungai, serta pengembalian fungsi rawa dan kawasan retensi banjir.

Menurut Ivan, masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada Sungai Batanghari harus menjadi bagian dari upaya pemulihan. Keberhasilan program perlu diukur melalui perbaikan kualitas air, penurunan sedimentasi, pemulihan ekosistem, berkurangnya risiko banjir dan kekeringan, serta perlindungan sumber air baku.

“Jangan sampai kita baru bergerak ketika banjir terjadi, air semakin keruh, atau ikan kembali mati. Yang harus kita pulihkan adalah fungsi seluruh DAS Batanghari, dari hulu sampai muara,” tegasnya. (*)

Pos terkait